![]() |
Ilmu
statistik yang diajarkan di Sekolah Tinggi Ilmu Statistik (STIS) Jakarta
mencakup metode-metode yang dipergunakan untuk mengumpulkan data dan cara untuk
mengolahnya. Pengolahan data tersebut melibatkan
banyak perhitungan - perhitungan yang cukup rumit. Akibatnya, mahasiswa yang diterima di Sekolah Tinggi Ilmu Statistik hanyalah orang-orang yang memiliki kemampuan akademik yang baik di bidang matematika dan sains. Dengan kata lain, mereka adalah siswa jurusan Ilmu Pengetahuan Alam ketika mereka masih duduk di bangku SMA.
banyak perhitungan - perhitungan yang cukup rumit. Akibatnya, mahasiswa yang diterima di Sekolah Tinggi Ilmu Statistik hanyalah orang-orang yang memiliki kemampuan akademik yang baik di bidang matematika dan sains. Dengan kata lain, mereka adalah siswa jurusan Ilmu Pengetahuan Alam ketika mereka masih duduk di bangku SMA.
Namun,
kegiatan statistik sebagai ilmu sains terapan juga membutuhkan ilmu sosial dan
ilmu bahasa dalam pelaksanaannya. Sehingga, saat menempuh pendidikan di STIS,
latar belakang mereka sebagai siswa jurusan IPA juga menghadapkan mereka kepada
beberapa kendala dalam menerapkan ilmu sosial atau ilmu bahasa seperti
menginterpretasikan statistik (hasil pengolahan data). Akibatnya, sebagian
besar mahasiswa STIS masih tidak terlalu mahir dalam hal menginterpretasikan
statistik yang mereka hasilkan.
Karena yang
kerap dipelajari di STIS adalah teknik untuk mengumpulkan dan mengolah data,
mahasiswapun memiliki kecenderungan untuk me-“nomor-dua”-kan pemahaman tentang
bagaimana cara menginterpretasikan statistik itu sendiri dan mengutamakan
pemahaman tentang menghasilkan statistik. Bahkan ada beberapa mahasiswa yang
mengeluh ketika harus berhadapan dengan soal-soal yang meminta mereka untuk
menginterpretasikan statistik yang telah mereka peroleh. Hasilnya, banyak
mahasiswa STIS yang masih belum mahir menginterpretasikan statistik bahkan
ketika mereka telah lulus dari STIS
Fenomena ini
merupakan hal yang patut mendapatkan perhatian. Seorang statistisi tidak dapat
dikatakan profesional ketika dia belum mahir menginterpretasikan statistik yang
diperolehnya. Selain itu, merupakan hal yang sangat fatal jika seorang
statistisi gagal menginterpretasikan hasil penelitiannya. Karena itu, setiap
mahasiswa STIS seharusnya belajar menginterpretasikan statistik dengan serius selama
belajar di STIS
Mahasiswa
harus meningkatkan pemahamannya mengenai materi yang sedang dipelajari termasuk
interpretasi data yang dihasilkan sementara mereka berusaha meraih nilai yang
baik. Kecenderungan untuk me-“nomor-dua”-kan pemahaman tentang bagaimana cara
menginterpretasikan statistik harus dilawan agar berhasil dalam proses untuk
menjadi seorang statistisi yang profesional. Niat dan tekad yang kuat dari
mahasiswa tersebut sangat dibutuhkan untuk dapat melakukan hal ini.
Selain itu,
melakukan kegiatan statistik secara nyata juga akan membantu mahasiswa untuk
belajar menginterpretasikan statistik. Penelitian-penelitian yang dilakukan
akan melibatkan ilmu tentang cara mengumpulkan data, mengolah data dan
menginterpretasikannya agar dapat di mengerti oleh publik. Semakin sering
melakukan penelitian, maka mahasiswa tersebut akan semakin terlatih dalam
menerapkan ilmu yang dimilikinya.
Usaha untuk
meningkatkan kemampuan menginterpretasikan statistik dalam diri seorang
mahasiswa calon statistisi sebaiknya sudah dilakukan sejak dini agar ia
memiliki cukup banyak waktu untuk mengasah kemampuan tersebut dalam dirinya. Jika
seorang mahasiswa mengabaikan ilmu tentang cara menginterpretasikan statistik selama
ia kuliah di STIS, peluang baginya untuk menghadapi banyak kesulitan saat
menjalankan tugas sebagai seorang statistisi sangat besar. Sebaliknya jika
mahasiswa tersebut dengan serius dan tekun mempelajari ilmu tentang cara
menginterpretasikan statistik selama ia kuliah di STIS, ia kemungkinan besar
akan berhasil menjadi seorang statistisi yang profesional, dapat diandalkan dan
sukses dalam pekerjaannya.
Oleh :
Jeraus Wiratama Wau
1A / 11.6725

Tidak ada komentar:
Posting Komentar