Kamis, 09 Mei 2013

aku merasa tidak dipedulikan...

Shaloom :)
Kali ini aku mau menepati janjiku untuk share pengalamanku saat aku merasa tidak dipedulikan...
kapan aku janji??? hahah... pokoknya seingatku aku pernah janji... :p

well, mulai dari mana yah...
mmm... pernah tidak ketika kalian dimarahi oleh orang yang lebih tua (abang, kakak,paman, orangtua, deesbe), trus mereka ngomong gini...
 "Kau ini! selalu saja kau bikin susah... nggak pernah kau menyenangkan hati orang tuamu!"
atau, "Nggak pernah kau dengarkan perkataanku!!! selalu aja kau melawan!"
atau mungkin yang kayak gini, "Itulah akibatnya! kau sih selalu main-main! nggak pernah kau blablablabla !"

Nah, yang ingin aku sorot disini bukanlah penggunaan kata "kau", tapi kata-kata "selalu... " dan "tidak pernah... ". Bahkan mungkin kita sendiri pun, kadang-kadang tanpa kita sadari ternyata kita juga menggunakan kata-kata itu ketika kesal, marah, dkk.. kepada orang-orang di sekitar kita. Apa yang salah dengan kata-kata itu? coba dengar apa yang pernah kualami... :)


sebelum aku melanjutkan ceritaku, aku mau menegaskan bahwa aku bercerita bukan untuk menjelek-jelekkan keluargaku sama sekali... sebab saat ini, baik aku maupun keluargaku telah diubahkan oleh Papa Jesus dengan cara yang luar biasa mengagumkan... ^_^
aku bercerita, untuk bersaksi akan kebaikan Tuhan.

Dulu, saat aku masih baru bertobat dan orang tuaku masih sangat tidak menyukaiku karna kelakuanku (yang sebelumnya) yang suka melawan, aku melakukan suatu hal (entah apa.. aku lupa.. hehe) yang membuat papa dan mamaku marah besar. Yupz... aku dimarahi habis-habisan dan seperti biasa, keluarlah kata-kata "selalu..." dan "tidak pernah..." ditengah tengah luapan emosi mereka. Untuk pertama kalinya waktu itu, aku memperhatikan 'ocehan' mereka dan aku bertekad dalam hati untuk berbuat baik dengan menyenangkan hati mereka, menuruti perkataan mereka, dan belajar dengan usaha ekstra dengan motivasi agar jangan lagi mereka mengatakan "selalu..." dan "tidak pernah...".

Waktu berlalu dan aku benar-benar melakukan tekadku itu, dan aku sangat berharap bahwa mereka memperhatikan betapa kerasnya usahaku untuk patuh, taat, menyenangkan hati mereka, dan belajar, termasuk melakukan pekerjaan - pekerjaan di rumah tanpa disuruh terlebih dahulu. Tapi ternyata aku salah...
Suatu hari  mamaku marah-marah lagi dan kali ini kami semua (anak-anaknya) kena jatah dimarahi, dan ketika tiba 'giliranku' keluarlah kata kata yang sama, "selalu saja kau bikin susah! nggak pernah kau menyenangkan hati orang tuamu! selalu harus disuruh-suruh kalau mau mengerjakan sesuatu! nggak pernah kau sadar sendiri dan kerjakan tugasmu tanpa disuruh! selalu saja... !!!"
(mmm... kayaknya kata-katanya jauh lebih kasar dari itu... tapi aku ngga sanggup mengingatnya lagi soalnya udah didelete dari memori otakku... hehehe. tapi ya kira-kira itulah inti omelan waktu itu)

Sebenarnya, aku udah kebal sama yang namanya dimarah-marahi dan dibentak-bentak (karna saking seringnya aku dimarahi)... tapi apa yang terjadi pada waktu itu adalah hal berbeda, hatiku hancur.
Dalam hati aku berkata, "kok tega dia samaku... kenapa ngga ada diperhatikannya gimana kerasnya usahaku untuk pernah menyenangkannya dan taat sama nasehatnya. Kenapa ngga di ingatnya gimana aku menyelesaikan pekerjaan di rumah sebelum mereka pulang. Kenapa usahaku ngga dihargai???".
Pengen rasanya waktu itu aku menyela omelan mamaku dan membela diriku, tapi dia lagi marah dan hatiku udah terlanjur hancur...

Waktu itu, aku kecewa, aku marah, aku kesal, dan aku sangat-sangat emosi.
Satu-satunya yang menenangkan hatiku saat itu adalah kasih Tuhan.
Ditengah tengah pikiranku yang sedang berkecamuk sementara mamaku mengomel di depan kami, entah bagaimana tiba-tiba aku ingat (teringat, diingatkan) akan kasih Bapa Sorgawi kepadaku.
Sebab itu, segera setelah 'giliranku dimarahi' selesai, aku langsung mencari tempat yang aman untuk berdoa dan mengadu kepada Dia yang mengasihi aku. Aku menceritakan dan menumpahkan semua perasaanku kepada Papa Jesus. Aku merasakan bahwa Roh Kudus hadir di situ dan memeluk aku... segera aku diliputi damai sejahtera dan hatiku tenang kembali sehingga setelah aku selesai mencurahkan isi hatiku kepada-Nya, aku beroleh kasih dan kekuatan untuk berdoa bagi kedua orangtuaku serta bagi saudara-saudariku...

Saat itu, aku sadar bahwa ngga ada gunanya kita mengharap kepada manusia sebab pasti kita akan kecewa. Aku juga menyadari bahwa ngga ada yang sanggup memberikan kasih yang tulus seperti Tuhan mengasihi kita. Memang aku akui bahwa orangtua kita sangat-sangat mengasihi kita (bahkan sebenarnya juga mereka memarahi kami waktu itu karna kasih mereka pada kami), namun kasih itu ngga lebih tulus dari kasih Yesus kepada kita.

Kasih Yesus pada kita itu adalah kasih yang penuh pengertian, perhatian, ketulusan, kemurnian, dan damai sejahtera. Sulit sekali bagiku untuk menggambarkannya dengan kata-kata...
yang udah pernah merasakan kasih Kristus pasti tau.. :).
Kalau kalian belum pernah merasakannya, datanglah kepada-Nya dan temukanlah hati-Nya, mintalah agar Dia memelukmu dan rasakanlah kasih-Nya melingkupimu...
wow! itu adalah kasih yang sangat indah.
Yang jelas, karna Yesus mengasihi aku, aku juga mengasihi Dia dengan segenap hatiku.
Dan karna Yesus mengasihi orangtuaku, dengan kasih-Nya itulah aku juga mengasihi orangtuaku, seperti apapun keadaan mereka.
You see? aku beroleh kasih untuk mengasihi orangtuaku meski aku diperlakukan buruk pada saat itu. Kalian bisa sebut itu keajaiban! ^_^

Orang-orang di sekitar kita adalah orang-orang yang belum sempurna dan masih dalam proses, sama seperti kita. Kita ngga bisa berharap bahwa mereka akan selalu memberi kita perhatian serta mempedulikan kita sebab suatu saat mereka mungkin saja berada pada masa-masa yang sulit sehingga mereka mengecewakan kita... Bahkan sekalipun mereka adalah para hamba-hamba Tuhan yang setia melayani dengan kasih, mereka bisa saja mengecewakan kita sebab mereka juga sedang dalam proses. Lagipula, motivasi dan fokus mereka saat melayani bukanlah kita tetapi Tuhan Yesus Kristus yang telah memberikan mereka tugas pelayanan itu.

Sebenarnya menggunakan kata-kata "selalu..." dan "tidak pernah..." bukanlah ide bagus untuk menggambarkan tindakan orang lain terutama ketika kita sedang kesal dan sedang mengingat-ingat hal-hal yang negatif tentang orang itu, sebab mungkin saja kita kurang memperhatikan ketika dia pernah berusaha menunjukkan kasih kepada kita. Sebab itu, baiklah kita memperhatikan kebaikan yang orang lakukan kepada kita dan jangan lupa ucapkan "terima kasih" sekecil apapun tindakannya itu, dan baiklah kita memberikan apresiasi atas usaha orang lain untuk berubah dari hal-hal yang buruk seberapa kecil pun 'prestasi' yang dia raih. Mungkin, kita ngga akan selalu menyadari hal-hal kecil itu atau bahkan kita mungkin akan lupa memberi apresiasi atau mengucapkan terima kasih karna kita juga sedang dalam proses, namun setidaknya kita bisa menghargai mereka sebab kita juga telah dijadikan berharga oleh kasih Kristus. Bisa jadi, bermula dari tindakan kecil kita (mengparesiasi dan mengucapkan terima kasih) orang-orang merasakan kasih Bapa.
Tidak ada yang mustahil bagi Tuhan! :)

Hanya ada satu orang yang bisa memberikan kita perhatian khusus dan mempedulikan kita setiap saat, yaitu Yesus Kristus. Dengan kasih-Nya itulah kita akan bisa mengasihi dengan tulus, dengan perhatian-Nya itu pula kita bisa memberi perhatian dengan tulus, dengan kepedulian-Nya itulah kita akan bisa mempedulikan dengan tulus, dan kita akan sanggup memberikan pelayanan kasih kepada saudara-saudara kita dengan fokus melayani Dia yang telah menyelamatkan dan memulihkan hidup kita. Kita mengasihi sebab Dia telah mengasihi kita.

Bersyukurlah kepada Tuhan sebab Ia baik!
Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya!
Halleluyah!

Tidak ada komentar: