Minggu, 22 Desember 2013

Sedemikian menderita, tapi Dia tetap terima.

"Ia sangat ketakutan dan makin bersungguh-sungguh berdoa. Peluh-Nya menjadi seperti titik darah yang bertetesan di tanah.”
( Lukas 22 : 44)

dalam versi bahasa inggris (NET) , tertulis  :
"And in his anguish he prayed more earnestly, and his sweat was like drops of blood falling to the ground."
kata yang diterjemahkan sebagai 'ketakutan' dalam versi bahasa Indonesia, diterjemahkan sebagai 'anguish' dalam versi bahasa Inggrinya. Anguish berarti menderita, kesedihan yang mendalam, penderitaan yang berat.


Beberapa jam sebelum Yesus diserahkan untuk disalibkan, Yesus berdoa kepada Bapa dan berserah kepada kehendak-Nya. Kemudian, Bapa mengutus malaikat kepada Yesus untuk memberi kekuatan kepada-Nya. Namun, Yesus sangat 'ketakutan' dan semakin bersungguh-sungguh berdoa. Apa yang membuat Yesus menjadi sangat 'ketakutan'? Apakah siksaan yang akan dihadapi-Nya? Bukan!

Hal yang membuat Yesus menjadi sangat menderita (ketakutan) bukanlah siksaan yang akan diterima-Nya, melainkan karena Ia harus menerima siksaan itu sebagai manusia. Kepada-Nya akan dilimpahkan semua dosa manusia untuk Ia tanggung dan tebus sampai lunas. Namun, Dia tidak dapat menerima dosa-dosa itu bila Allah Bapa tetap bersama-Nya sebab Allah Bapa Maha Kudus dan dosa tidak dapat bertahan di hadapan-Nya. Sebab itu, untuk dapat menanggung dan menebus dosa manusia, Allah Bapa harus meninggalkan-Nya dan ini berarti Yesus harus "berpisah" dengan Bapa selama proses penebusan itu berlangsung. Perpisahan inilah membuat-Nya sedemikian menderita sampai-sampai peluhnya menjadi seperti titik darah yang bertetesan di tanah.

Sedemikian menderitanya Dia, namun Dia tetap menerima cawan itu demi keselamatan kita...
sedemikian berat penderitaan itu bagi-Nya, namun Dia tetap menanggungnya agar kita beroleh hidup...
sebab itu, jangan menyia-nyiakan keselamatan yang telah diberikan-Nya bagi kita...
hiduplah sesuai kehendak-Nya dan setialah sampai akhir... 

Shaloom bagimu!


Tidak ada komentar: